Menyambut Pesta Demokrasi: Analisis Film ‘Dirty Vote’ dalam Diskusi Santai
- Dian Safitri
- Feb 14, 2024
- 2 min read
Updated: Feb 14, 2024
Satu hari mejelang pemilu, Badan Eksekutif Mahasisa (BEM) Politeknik STIA LAN Makassar membuka forum diskusi santai di kantin. Inisiatif ini adalah yang pertama kalinya dilakukan oleh BEM tanpa perencanaan yang matang sebelumnya. Acara menarik ini berawal dari inisiatif Pak Anhar Dana Putra S.Psi., M.Psi.T seorang dosen di Politeknik STIA LAN Makassar yang seringkali mengangkat isu-isu terkini dalam berbagai topik. Kali ini, beliau mengajak BEM sebagai fasilitator untuk membahas film dokumenter berjudul "Dirty Vote" dalam forum diskusi santai sepulang kuliah. Keputusan untuk mengangkat topik ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, mengundang partisipasi mahasiswa dan dosen dengan cara yang santai namun informatif.
Film dokumenter "Dirty Vote" menjadi perbincangan yang hangat menjelang pesta demokrasi. Dengan menghadirkan tiga ahli tata negara, film ini mengungkap beragam kecurangan yang terjadi pada pemilu 2024. Masa tenang sejenak terguncang oleh kontroversi yang dihadirkan oleh film ini, memicu perdebatan antara pendukung dan penentangnya.
Menarik dalam forum diskusi ini, mahasiswa dan dosen saling berbagi pandangan serta pemikiran terkait film tersebut. Diskusi mencakup beberapa aspek, mulai dari analisis data yang diungkap film hingga penilaian terhadap penyajian film itu sendiri. Ada yang menganggapnya sebagai pemaparan yang mendalam layaknya presentasi kuliah yang dijadikan film dokumenter yang tampak membosankan, sementara yang lain mungkin melihatnya dari sudut pandang yang lebih kritis. Tidak sedikit menganggap film ini sebagai propaganda untuk menjatuhkan salah satu paslon. Namun, beberapa mengajak untuk menonton film dengan kacamata netral, melihatnya sebagai kritik terhadap pemerintah secara keseluruhan, bukan hanya terhadap satu paslon saja. Sebagian juga menyoroti lembaga pengawas pemilu (Bawaslu) yang perlu diperbaiki. Di sisi lain, salah satu dosen mengajak untuk melihat pemilu dari perspektif politik dan administrasi, terlepas dari konten yang disajikan dalam film dokumenter tersebut.
Pada akhirnya, film dokumenter “Dirty Vote” hanyalah pemantik untuk kita lebih peduli terhadap isu-isu pemilu dan tata kelola demokrasi. Film ini tidak dimaksudkan sebagai penentu dalam memilih paslon mana yang terbaik, melainkan sebagai sarana untuk mencari tahu lebih dalam kebenaran dan informasi lebih lanjut terkait semua paslon.
Diharapkan setelah diskusi ini, semua dapat menggunakan hak suaranya dengan baik. Pesan terakhir dalam forum, terkhusus untuk para gen z yang merayakan momen pertama kali memilih adalah jadilah pemilih cerdas dengan tidak terpengaruh oleh konten video pendek yang seringkali belum teruji kebenarannya secara menyeluruh.
Dalam proses pemilihan, kita dihadapkan terhadap 2 pilihan: pertama, memilih untuk tetap melanjutkan apa yang sudah ada dan dinilai baik, atau kedua, membuat perubahan yang diharapkan dapat membawa dampak yang lebih baik lagi.
Comments